10/28/2009

Jejak Shaolin di Kwitang


Cerita Kwitang tak hanya pada Tugu Tani setinggi kurang lebih sepuluh meter.

VIVAnews - Menyusuri kawasan Kwitang akan selalu dikenalkan dengan sebuah Tugu Tani yang menjadi petunjuknya. Tapi, cerita Kwitang tidak hanya pada tugu setinggi kurang lebih sepuluh meter.

Kwitang menurut ceritanya juga terkenal dengan seorang jagoan Betawi. Jagoan Betawi asal Kwitang ini menambah legenda para pesohor silat lainnya seperti Si Pitung atau Jampang yang melegenda hingga ke seluruh pelosok Jakarta.

Namun epik bukan dari sejumlah nama itu saja. Tak banyak orang yang mengetahui ternyata Kampung Kwitang juga memiliki pesilat tangguh yang tak kalah hebatnya. Dia adalah Kwk Tang Kiam.

Kwik Tang Kiam adalah seorang pesilat asal negeri Tiongkok. Kehebatan pemuda ini dalam ilmu bela diri membawa pengaruh bagi warga di kampung Kwitang.

"Dia memang sangat tersohor di kampung ini. Bahkan kata kakek saya, orang Betawi jaman dulu menyebut daerah ini sebagai kampung si Kwik Tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang," kata sesepuh Kwitang, Habib Abdul Rahman kepada VIVAnews, di kediamannya Jalan Kembang V No 50, Kwitang, Jakarta Pusat.

Kisah itu berawal pada abad 17 ketika seorang pengembara dari dataran Tiongkok, Kwik Tang Kiam menjejakkan kakinya di tanah Betawi. Konon, Kwik Tang Kiam telah mengembara ke hampir seluruh pelosok daerah Indonesia.

Di salah satu kampung di Betawi pengembara yang juga pedagang obat-obatan tersebut menetap. Selain piawai dalam meracik obat-obatan, ia juga ahli dalam berolah silat.
Di daerah tempat ia menetap, Kwik Tang Kiam menurunkan ilmu silatnya kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

"Banyak orang Betawi di sini yang jago silat, salah satunya Mat Zailani. Aliran silat di sini dikenal dengan sebuatan Si Ulung (perpaduan antara kekuatan fisik dan kebatinan)," ungkap pria 67 tahun itu.

Memang kehebatan ilmu silat Kwik Tang Kiam diakui masyarakat Betawi saat itu. Silat yang diajarkannya menggunakan jurus-jurus ampuh mirip aliran Shaolin yang memadukan unsur tenaga, kekuatan fisik dan kecepatan.

Hal ini sangat berbeda dengan aliran silat Betawi yang lebih menonjolkan ilmu kebatinan. Walau demikian Kwik Tang Kiam mengakui kehebatan ilmu kebatinan silat Betawi.

"Konon sejak itulah Kwik Tang Kiam menetap di kampung ini, dan para sesepuh di sini banyak yang mengatakan dia akhirnya memeluk agama Islam," paparnya.

Cerita lain Kwik Tang Kiam menyebutkan dia adalah seorang tuan tanah yang kaya. Hampir semua tanah yang terdapat di daerah tersebut adalah miliknya.

Saking luasnya tanah milik Kwik Tang kiam, orang Betawi menyebut kampungnye si Kwik Tang. Konon juga Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang suka berjudi dan mabuk.

Setelah Kwik Tang Kiam meninggal dunia, anaknya yang suka berjudi dan mabuk Kwitang itu malah menjual semua tanah milik bapaknya kepada saudagar keturunan Arab.

Sejak itulah banyak keturunan Arab yang tinggal di Kampung Kwitang.

Selain silat, kampung Kwitang sejak tahun 1890 terkenal dengan sebuah perkumpulan majelis taklimnya. "Warga Betawi di Kwitang agama Islamnya cukup kuat, meskipun banyak warga Tionghoanya," ujarnya.

Lain dulu, lain sekarang. Kini kehebatan para pesilat di kampung Kwitang nyaris tak terdengar.

Bagi masyarakat Jakarta kampung Kwitang selalu identik dengan para penjual buku-buku baru dan bekas, meskipun Pemerintah Provinsi DKI sudah merelokasi para pedagang buku di Kwitang ke Pasar Proyek Senen.

"Ya inilah wajah Kwitang saat ini, tapi jangan lupa anak-anak Kwitang masih jago kalau soal silat. Ente jual, ane beli," selorohnya.

Tidak ada komentar: